Selasa, 01 September 2009

Wilma Rudolph, The Gold Medalian Girl!


THE GOLD MEDALIAN GIRL


This girl is really SOOOO INSPIRING.
BIG SALUTE for her big spirit!

sumber dari mana gue lupa. haha. just have a happy reading!

"Sejarah telah menunjukkan bahwa pemenang-pemenang terkenal biasanya menemui hambatan yang menyakitkan sebelum mereka berhasil. Mereka berhasil karena tidak berkecil hari oleh kegagalan-kegagalan mereka." -B.C. Forbes-

Wisma Rudolph adalah anak ke 20 dari 22 bersaudara. Ketika lahir,ia merupakan bayi prematur dan beratnya hanya 1,7 kg,namun beruntung ia masih bisa bertahan hidup. Karena satu - satunya rumah sakit yang mau menerima orang kulit hitam berjarak satu jam perjalanan, ibunya memilih untuk merawatnya dirumah sampai sembuh.

Ketika ia berusia 4 tahun,ia menderita pneumonia dan demam tinggi. Itu adalah polio, kata dokter - penyakit yang mengkhawatirkan orang tua mana pun di tahun 1940an. Saat itu, belum ada obatnya, dan penyakit itu dapat menyebar dan melumpuhkan paru - paru atau sistem saraf. Untung bagi Wilma penyakit itu hanya menyerang kakinya. Tetapi celakanya, kata dokter, ia tidak akan mampu berjalan.

Ibu Wilma punya ide lain, dan mereka berdua memulai ritual mingguan. Dua kali dalam seminggu, mereka akan menumpang di bagian belakan bus Greybound dan menempuh perjalanan selama satu jam ke Nasville. Wilma akan nempuh terapi fisik yang menyakitkan selama berjam - jam mengikuti terapi fisik yang menyakitkan selam berjam - jam yang didesain untuk menguatkan kakinya. Dokter mengatakan bahwa kakinya tidak akan sembuh,namun ia dan ibunya percaya bahwa ia akan sembuh suatu saat nanti.

Pada saat Wilma berusia 6 tahun, ia diberi penyangga kaki yang terbuat dari metal untuk membantunya berjalan. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya agar dapat lepas dari alat itu. Ia menganggap alat itu seperti alat penyiksa, karena meskipun alat itu membantunya berjalan, alat itu membuatnya tinggal dirumah dan tidak bersekolah. Ia sering menangis sendirian di rumah karena merasa depresi melihat anak-anak lain bersekolah ke luar rumah.

Tapi,ia tak menyerah begitu saja. Ia mencoba berjalan tanpa menggunakan alat penyangga. Jatuh,bangun,jatuh bangun. Dan ibunya yang melihat hal itu menyemangatinya dengan berkata,"Bangkitlah setiap kali kau terjatuh.Dan terjatuh lagi."
Pada saat ia masuk SMP, Ia siap untuk bergambung dengan tim basket. Melawan harapan ibunya, ia memohon pada pelatih basket untuk mengizinkannya bermain, Ia setuju, tetapi
hanya menyuruh Wilma duduk di kursi slama tiga tahun.Membia
rkannya bermain hanya dibeberapa detik terakhir dipermainan yang kalah dan kadang - kadang bahkan ia tidak memberinya kesempatan untuk memakai seragam. Itu merupakan 3 tahun penuh frustasi bagi Wilma, dan ia juga tiga tahun persiapan. Tahun - tahun yang dihabiskan Wilma untuk mengamatai anak - anak lainya bermain ketika ia duduk dipinggir lapangan telah diberinya kekuatan. Ia mengamati. Ia belajar. Ia menganalisis. Ia tiba dilapangan dengan pemahaman mendalam mengenai permainan tersebut bahkan menyaingi pelatihnya.
Setelah tiga tahun menanti, Wilma memaksa pelatihannya agar menyertakannya dalam permainan. Pelatih menempatkannya di daftar pemain awal, tempat ia memimpin timnya di musim pertandingan yang tidak terkalahkan dan kejuaraan negara bagian. Tim itu kehilangan gelar juara, tetapi Wilma memenangkan sesuatu yang lebih besar: perhatian dari pelatih lari putri di tennessee State University.”Tigerbelles” adalah tim lari unggulan putri di daerah itu, dan Coach Teample mengundang Wilma untuk bergabung dengan tim tersebut meskipun ia masih SMA.
Wilma telah berlatih lari di sekolah, meskipun pertandingan tesebut adalah pertandingan informal dan tak seorangpun adalah yang mengendalikan catatan waktu atau perempatan. Ia selalu menang dan mudah dalam pertandingannya: “Berlari pada waktu itu, murni hanya sebagai kesenangan bagu saya. Saya menang tanpa benar - benar berusaha. ” Wilma bergabung dibawah pengawasan ketat Coach Temple. Pelatih itu tegas, menghukum para gadis dengan berlari extra untuk setiap menit keterlambatan mereka selama latihan. Suatu pagi, Wilma kesiangan setengah jeam. Ia pun dihukum melakukan 30 putaran ekstra, sejak saat itu ia memutuskan untuk berlatih setengah jam lebih awal.
Kemudian,Wilma mulai mengkuti lomba lari jarak pendek,namun selalu saja mencapai finish paling akhir. Namun ia tak menyerah begitu saja.Ia mengkuti lomba lebih banyak lagi beberapa tahun kemudian,namun hasilnya tetap saja sama,dia selalu terakhir.
Hingga pada suatu hari,akhirnya Wilma berhasil mencapai garis finish di tempat pertama. Pada lomba berikutnya,ia menjadi juara pertama setiap kali pertandingan.
Wilma terus berlari,sampai akhirnya pada tahun 1960 dia menciptakan rekor dunia dalam olimpiade untuk nomor 100 dan 200 m dan memenangkan mendali emas untuk kedua nomor tersebut. Dalam nomor estafet 400 m,dia menjadi pelari terakhir,yang terakhir menerima tongkat,tetapi dapat meraih tempat pertama. Dengan tambahan mendali ini,ia menjadi wanita pertama peraih 3 mendali emas dalam sejarah olimpiade.

AMAZING. SALUTE!

"Nilai tertinggi seorang manusia bukanlah di mana ia berpijak pada saat-saat nyaman dan menyenangkan,tetapi di mana ia berpijak pada saat-saat tantangan dan pertentangan." -Marthin Luther King Jr.-


2 komentar:

Feel free to write down any comments, question, critics hereee!